Tradisi Politik Dinasti, Lahirkan Raja Kecil Meraih Keuntungan

13 Des 2019 10:43

KBRN, Jakarta : Pengamat Politik Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto menilai, masuknya masuknya dua orang terdekat Presiden Jokowi dalam bursa bakal calon pilkada merupakan salah satu tradisi demokrasi di indonesia. 

“Ini merupakan tradisi demokrasi lokal kita, paska pemilihan model langsung sejak 2005, ada tren bahwa politisi lokal punya kaitan dengan politik lokal sebelumnya yang sudah berhasil. Model ini biasa disebut dengan politik dinasti, dimana para calon kepala daerah itu punya garis keturunan pada lingkaran elit, baik pada tingkatan lokal bahkan nasional,” ungkap Agus pada Pro 3, Jumat (13/12/2019).

Menurutnya, dunia politik masih menjadi daya tarik para elit untuk ikut bergabung, karena disebabkan tiga faktor. Dimana pertama politik di Indonesia masih memiliki cara untuk memiliki daya tawar baik dalam proses memberikan gagasan atau ide pembangun daerah.

“Juga sebagai cara memperoleh popularitas, bagaimana menguji kemampuan pada program pembangunan lokal. Selanjutnya karena soal ekonomi di politik, dimana kepala daerah sebagai cara meraih keuntungan ekonomi yang tinggi,” ungkapnya.

Namun, sejauh ini dia menilai, dengan politik dinasti tersebut, maka demokrasi hadir dalam lingkaran sebuah desain, tanpa adanya kemurnian yang nyata.

“Problem kita adalah, calon ini tidak murni sebagai pilihan alamiah, tapi didesain secara sedemikian rupa. Akibatnya, ada implikasi negatif, yang berkaitan dengan dinasti ini, kepala daerah banyak ditangkap KPK, melahirkan koruptor lokal, raja-raja kecil. Bahwa calon ini punya hubungan relasi yang cukup kuat dengan elit dinasti itu, itu sisi negatifnya,” jelasnya.

Meski demikian, menurutnya, dibaca dari prosedur apa yang telah disediakan dari demokrasi dan konstitusi, tentu tidak ada larangan untuk itu. Namun tinggal bagaimana memandang hal itu sebagai salah satu kepatutan dan kewajarannya.

“Hak setiap warga dengan potensi yang dimiliki boleh berpartisipasi, termasuk kepala daerah. Cuma, dari aspek etik, kepatutan, dan kewajaran yang mesti jadi perhatian pada elit yang begini,” pungkasnya.

https://rri.co.id/nasional/politik/758183/tradisi-politik-dinasti-lahirkan-raja-kecil-meraih-keuntungan

About admin

Check Also

Pembuatan Draf Omnibus Law Harus Terbuka dan Libatkan Publik

PAKAR hukum tata negara Universitas Sebelas Maret (UNS), Agus Riewanto, mengatakan, masalah utama terkait omnibus …

Ketentuan PPKM Solo Diubah, Pakar UNS: Walkot Tak Kuat Mengkaji Aturan

Bayu Ardi Isnanto – detikNews – Selasa, 12 Jan 2021 16:09 WIB Mural bertema waspada …

Tantangan Gibran di Tahun Pertama Jalankan Roda Pemerintahan di Solo

Calon Wali Kota Solo dari Partai PDI Perjuangan Gibran Rakabuming Raka menggelar jumpa pers terkait …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *