Pengamat Hukum UNS Nilai Remisi bagi Djoko Tjandra tak Pantas

Sri Hartanto– Minggu, 22 Agustus 2021 | 17:46 WIB

Pengamat Hukum Tata Negara FH UNS, Dr Agus Riewanto SH MH

SOLO, suaramerdeka-solo.com – Pemberian keringanan hukuman atau remisi bagi Narapidana kasus korupsi Djoko Tjandra mengundang reaksi dari berbagai pihak.

Pengamat hukum tata negara yang juga dosen Pasca Sarjana UNS, Dr Agus Riewanto bersuara lantang.

Menurutnya, keputusan pemberian remisi bagi terpidana korupsi dalam kasus pengalihan hak tagih piutang atau cessie Bank Bali tersebut seuatu yang aneh.

“Pemberian remisi bagi Djoko Tjandra merupakan keputusan yang aneh. Apakah ada aspek politik disitu, Ini yang perlu dipertanyakan,” tegas ahli hukum tata negara tersebut saat dikonfirmasi Minggu (22/8/2021).

Menurutnya, memang pemberian remisi itu merupakan hak bagi narapidana apapun bentuknya dengan berbagai syarat yang ada. Tapi masalahnya para penegak hukum menerapkan peraturan perundang-undangan secara legalistik.

Di mana istilah kelakuan baik itu dipahami, bahwa yang bersangkutan tidak berbuat apapun di dalam penjara.

“Namun para penegak hukum tidak bicara bagaimana aspek kepantasan atau kepatutan,” kata Dosen Fakultas Hukum UNS tersebut.

Agus menjelaskan, pantas tidak seorang Djoko Tjandra mendapatkan remisi. Mungkin kelakuan Djoko Tjandra dalam bencara baik, tapi kalau secara moral itu tidak pas.

“Harusnya syarat memperoleh remisi itu bisa diatur lebih spesifik lagi. Sehingga tidak menimbulkan diskriminasi atau ada kesan bahwa korupsi itu bukan kejahatan luar biasa tapi kejahatan biasa,” paparnya.

Dosen Pasca Sarjana tersebut menilai, jika korupsi itu termasuk kejahatan yang luar biasa dan harus dilakukan berbeda dengan kejahatan lain. Adanya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu untuk menunjukkan jika korupsi imerupakan kejahatan luar biasa, karena KPK itu merupakan lembaga khusus.

“Tapi kenyataannya korupsi dianggap setara dengan kejahatan yang lain. Padahal dalam perundang-undangan korupsi dianggap sebagai kejahatan luar biasa, tapi pada saat eksekusi dalam proses pemidanaan dianggap biasa,” paparnya.

Terpidana Djoko Tjandra sempat buron juga, bahkan pernah memalsukan data. Itu mestinya dilakukan berbeda, apalagi sudah merugikan negara dan itu banyak yang dipertanyakan publik.

“Ini catatan bagi pemerintah dalam memberikan remisi bagi terpidana. Harusnya pemerintah jeli dan melihat aspek sosiologi masyarakat harus dibaca,” imbuhnya.

Doktor hukum UNS itu menambahkan, mungkin banyak masyarakat yang menilai dan curiga sebegitu sakti dan hebatnya Djoko Tjandra. Dia bisa mengelola dan memenej semua dari konflik penegak hukum.

“Tidak semua narapidana itu memiliki apa yang dimiliki Djoko Tjandra. Mungkin kalau kasus-kasus biasa masuk akal, ini kasusnya korupsi,” tandasnya.

Kalau bisa ada revisi tentang remisi bagi narapidana. Ini supaya kasus korupsi ditangani dengan cara khusus dan selama ini belum ada yang dijalani secara serius.

Sejauh ini masih ditangani seperti kasus-kasus biasa, padahal itu sangat berbeda sekali.

“Harusnya terpidana kasus korupsi jangan diberi remisi. Ini kejahatan luar biasa, karena dampaknya luar biasa juga dan tidak manusiawi. Harus ada revisi tentang remisi,” tandasnya.

Lebih lanjut Agus Riewanto mengatakan, sebenarnya selama ini sudah ada pemidanaannya. Kalau dalam undang-undang, ada pidana pokok dan tambahan. Pidana pokok itu maksimal 20 tahun hingga hukuman mati.

Kalau pidana tambahan itu mengembalikan kerugian negara. “Itu sudah ada semua sebenarnya dan sudah tepat. Tapi pelaksanaannya belum pas,” pungkas dia. **

https://solo.suaramerdeka.com/nasional/pr-05942334/pengamat-hukum-uns-nilai-remisi-bagi-djoko-tjandra-tak-pantas?page=all

About admin

Check Also

Tegas Menolak Jokowi Tetap Bisa Jadi Presiden 3 Periode Kuncinya Restu Partai Pendukung

Jika partai pendukung Jokowi merestuinya untuk menjadi presiden tiga periode, maka itu bukan sesuatu yang …

Masih Efektifkah Kampanye dengan Cara Lama di Era Digital?

Monday, 12 July 2021 Baru-baru ini perkembangan jaringan 5G semakin dikembangkan. Indonesia pun tak mau …

Sosialisasi Regulasi Penanggulangan Covid-19 bagi Ibu Rumah Tangga

7 Juli 2021 , 10:47 WIB | Tyo Eka – Timlo.netin Pendidikan, Umum PD Aisyiah Surakarta dan FH UNS menggelar …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *