Sumpah Pemuda dan Bela Negara

PADA setiap 28 Oktober, kita diingatkan oleh peristiwa ‘Soempah Pemoeda’ yang merupakan puncak dari lahirnya kesadaran nasionalisme pemuda kita di penghujung abad ke-19 untuk mewujudkan mimpi Indonesia merdeka.
Besok ialah momentum tepat untuk mengevaluasi seberapa kuat dan besar rasa nasionalisme, serta bela negara para pemuda kita.
Di sinilah relevansinya mengaitkannya dengan program Kementerian Pertahanan RI (Kemenhan) di era pemerintahan Joko Widodo yang mencanangkan program pelatihan bela negara untuk 100 juta kader dalam 10 tahun.

Telah dimulai pelatihan perdana untuk 200 pelatih inti pembina kader bela negara.
Jumlah itu bagian dari 4.500 kader pembina bela negara di 45 kabupaten/kota. (Media Indonesia, 23/10/2015). 

Pemuda perubah bangsa
Pemuda atau generasi muda umumnya dipakai sebagai konsep untuk memberi generalisasi golongan masyarakat yang berada pada usia paling dinamis, yang membedakan dari kelompok umur anak-anak dan golongan tua.
Pemuda bukan cuma fenomena demografis, melainkan juga sebuah gejala historis, ideologis, dan juga kultural.
Pada setiap episode sejarah bangsa, peran pemuda selalu terlibat di dalamnya.
Peran pemuda dalam perubahan sosial kerap berada pada posisi avant garda dan menentukan.
Dalam babak sejarah sosial-politik, setiap bangsa mengajarkan pemuda tak pernah absen mengambil peran dalam perubahannya.
Kendati inspirasi dan kreasi dari setiap peran pemuda dalam babak sejarah, setiap bangsa itu mengalami perbedaan seiring dengan fase zamannya.
Dalam konteks sejarah sosial bangsa kita, peran pemuda dapat dikualifikasikan dalam beberapa angkatan, 1908, 1928, 1945, 1966, 1974, 1980, 1990, hingga 2000-an.
Secara ideologis, mereka adalah golongan yang kritis adaptif serta sanggup melahirkan ide-ide baru yang dibutuhkan masyarakatnya.
Sementara secara kultural, mereka adalah produk sistem nilai yang mengalami proses pembentukan kesadaran dan pematangan identitas dirinya sebagai aktor penting perubahan.
Sebagai golongan elite masyarakat, dalam banyak kasus, peran kaum muda amat menentukan arah kehidupan bangsanya.
Mereka adalah kaum elite yang memiliki mobilitas tinggi dan peran sentral dalam menentukan opini serta keputusan mayoritas.
Pada gilirannya, kaum elite itulah yang mengontrol berbagai akses atas sumber daya ekonomi dan politik negara.
Jika pemuda angkatan 1928 sukses menggalang ideologi persatuan nasional: “Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa Indonesia,”
Pemuda di era kini diharapkan mampu memerankan dirinya sebagai lokomotif gerakan reformasi mental korup, diskriminatif dalam penegakan keadilan hukum dan hak asasi manusia (HAM), sekaligus mendorong penguatan demokratisasi, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan peradaban bangsa.
 
Menghindari pemuda instan
Namun, realitasnya pemuda kita kini lebih bangga jika berperilaku kebarat-baratan.
Mulai dari gaya pakaian, makanan, bahkan sikap dan pandangan hidup.
Stereotip gaya hidup hura-hura itu ditunjukkan secara gamblang lewat stasiun televisi, mulai dari gaya sinetron dengan pendekatan serbahedonis.
Pemuda sekarang lebih senang memacu diri lewat jalan pintas dan ‘jalan instan’, semisal menjadi penyanyi terkenal, artis, lalu banyak penggemar dan kaya mendadak lewat profesi glamor.
Sementara yang memiliki komitmen tinggi dan kepedulian serius dalam melihat realitas sosial, jumlahnya hampir punah.
Karena itu, hari-hari ini kita tengah dilanda defisit pemuda bersensitivitas sosial tinggi.
Saatnya pemuda untuk meningkatkan kualitas diri dan menunjukkan komitmennya melakukan kerja dan membangun jejaring sosial sebagai bagian dari aktualisasi peran kesejarahan pemuda.
 
Harapan program bela negara
Itulah sebabnya program pelatihan kader bela negara yang dicanangkan Kemenhan RI untuk kalangan pemuda kita yang berusia 16-40 tahun, seharusnya diarahkan pada upaya menanamkan rasa cinta Tanah Air, juga rela berkorban, sadar berbangsa dan bernegara, meyakini Pancasila sebagai ideologi negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara, baik secara fisik maupun nonfisik.
Namun, model pelatihannya diharapkan bukan pelatihan indoktrinasi yang cenderung mematikan nalar dan daya pikir kritis pemuda terhadap tantangan yang akan dihadapinya.
Model seperti ini pernah diterapkan di era Orde baru dengan nama Penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) yang bertujuan menghayati dan mengamalkan Pancasila.
Namun, karena tafsir terhadap Pancasila yang tunggal dan cenderung hanya untuk melegitimasi dan melanggengkan Orde Baru, akibatnya gagal dan hanya menghasilkan puing-puing sejarah kelam.
Sejarah mencatat program Penataran P4 ini telah dilaksanakan sejak 1978, berdasarkan Ketetapan MPR No II/MPR/1978 tentang Eka Prasetya Pancakarsa/P4 dan Penegasan Pancasila sebagai Dasar Negara.
Namun, Tap MPR ini dicabut pada 1998 melalui Tap MPR No XVIII/MPR/1998 tentang Pencabutan Tap MPR No II/MPR/1978.
Kegagalan P4 era Orde Baru ini seharusnya dijadikan pelajaran bagi Kemenhan RI dalam menyusun kurikulum, model, dan peserta dalam program pelatihan bela negara.
Pada era kini memerlukan kreativitas baru dalam penguatan rasa bela negara dengan mengontekskannya dengan isu-isu aktual yang tengah dan akan dihadapi pemuda Indonesia di era globalisasi ini.
Karena itu, memperkuat basis pemahaman akan ancaman bangsa Indonesia baik internal maupun eksternal perlu dilakukan.
Begitu juga perlu disusun model kurikulum yang berbasis sipil bukan pendekatan militer yang lebih banyak diarahkan pada daya nalar dan kritis, bukan fisik dan mental belaka.
Lebih dari itu, program bela negara ini juga perlu memerhatikan regulasi yang tepat, terutama keterlibatan pemerintahan daerah kabupaten/kota dalam pengambilan kebijakan dan pendanaan.
Sebaiknya, semua kebijakan dilaksanakan di pemerintahan pusat, termasuk pendanaannya dianggarkan melalui dana APBN bukan APBD sehingga sinergitas antara pemerintah pusat dan daerah dapat dilakukan untuk memperkuat dan mempertebal pemuda kita dalam bela negara menuju Indonesia yang kuat.
Dengan cara inilah, nilai-nilai luhur dari generasi muda di era 1928 dapat diejawantahkan dalam konteks dan ruang di zaman kekinian.

Sumber:

https://www.medcom.id/pilar/kolom/8ko2Jq5b-sumpah-pemuda-dan-bela-negara

About admin

Check Also

Memahami dan Menerima Kritik Mahasiswa

Kritik itu nutrisi dan gizi bagi tumbuhnya demokrasi. Maka demokrasi tanpa kritik adalah demokrasi yg …

Kampus Benteng Pancasila

Koran SINDO – Senin, 31 Mei 2021 – 05:39 WIB Oleh Prof. Dr. Jamal WiwohoRektor …

Balada MK dan KPK

Putusan MK RI yg menolak uji formil dan sebagian uji materi UU KPK baru sungguh …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *